Konsep Dasar Media
A. PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Media pembelajaran adalah perantara atau perantara pesan dari pengirim ke penerima pesan. Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education and Comunication Technology/AECT) di Amerika misalnya, membatasi media pembelajaran sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Menurut Gagne (Arief S. Sadiman dkk., 2003: 6) media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu pendapat dari Briggs (Arief S. Sadiman dkk., 2003: 6) media pembelajaran adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Contohnya: Buku, film, kaset, film bingkai.
Menurut Arief S. Sadiman (2003: 6), pengertian media adalah perantara atau penghantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Menurut Azhar Arsyad (2003: 3) mengutip dari pendapat Gertach dan Ely, bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia atau materi maupun kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap.
Dari uraian di atas dapat dirangkum bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi
B. PEMBELAJARAN DALAM KONTINUM KONKRIT-ABSTRAK
Pada awal sejarah pembelajaran, media hanya merupakan alat bantu yang digunakan oleh pembelajar untuk menjelaskan pelajaran. Pada awal mula, alat bantu yang digunakan adalah alat bantu visual, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada pemelajar, antara lain untuk mendorong motivasi belajar, memperjelas serta mempermudah konsep-konsep yang bersifat abstrak serta meningkatkan daya serap atau retensi belajar si pemelajar. Lalu seiring berkembangnya teknologi, khususnya teknologi audio pada pertengahan abad ke-20 ditemukanlah alat bantu audio visual yang dipergunakan untuk menghasilkan pengalaman yang kongkrit. Alat bantu audio visual dimanfaatkan untuk menghindari verbalisme.
Pada tahun 1969, Edgar Dale mengadakan klasifikasi terhadap pemanfaatan media sebagai alat bantu. Klasifikasi tersebut dimulai menurut tingkat dari yang paling konkrit ke tingkat yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama Cone of Experience atau Kerucut Pengalaman. Klasifikasi tersebut dianut secara luas untuk menentukan alat bantu yang paling sesuai untuk pengalaman belajar.
Gambar 1.1. Kerucut Pengalaman Edgar Dale (https://bagusdwiradyan.files.wordpress.com/2014/07/krucut- pengalaman.png)
Tingkatan pengalaman pemerolehan hasil belajar seperti yang digambarkan oleh Dale (1969) sebagai suatu proses komunikasi. Hasil belajar pemelajar diperoleh mulai dari pengalaman langsung (konkrit), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan, kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak). Semakin ke atas di puncak kerucut semakin abstrak media penyampai pesan tersebut. Perlu dicatat bahwa urutan-urutan dalam kerucut pengalaman bukan berarti proses belajar harus selalu dimulai dari pengalaman langsung, tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan serta mempertimbangkan situasi belajarnya.
C. KEDUDUKAN MEDIA DALAM PROSES BELAJAR
Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan (encoding) dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu yang kemudian ditafsirkan oleh penerima pesan (decoding). Tetapi dalam proses penafsiran pesan tersebut ada kalanya tidak berjalan secara lancar. Penafsiran yang gagal bisa ditimbulkan oleh beberapa hal-hal yang menghambatnya. Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat atau penghalang proses komunikasi tersebut. Penghambat tersebut biasa dikenal dengan istilah barriers atau noises. Hambatan-hambatan bisa berupa hambatan psikologis, seperti minat, sikap, kepercayaan, inteligensi, hambatan fisik dan keterbatasan daya indera hambatan jarak geografis, jarak waktu dan lain-lain.
Berikut merupakan contoh-contoh proses komunikasi:
Gambar 1.2. Proses Komunikasi yang Gagal
Proses komunikasi tersebut dikatakan gagal karena pesan yang disampaikan oleh si pembelajar adalah “A” tetapi yang dapat menafsirkan pesan dengan benar hanyalah 1 orang murid dari 3 orang murid yang ada.
Gambar 1.3. Proses Komunikasi yang Berhasil.
Proses komunikasi tersebut dikatakan berhasil karena pesan yang disampaikan sama persis apa yang diterima oleh pemelajar. Hal tersebut dapat terjadi karena ikut sertanya media dalam proses belajarnya. Sumber pesan biasa penulis buku, pelukis, fotografer atau si pembelajar itu sendiri. Medianya bisa berupa buku, poster, foto, program kaset audio, film, kaset video. Pesan A yang disampaikan oleh pembelajar maupun media dan sumber dapat ditafsirkan A pula oleh para pemelajar. Pembelajar dan media bekerja sama, bahu membahu dalam menyajikan pesan. Dalam kata lain kedudukan media pembelajaran sangat penting dalam pemelajaran untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
D. FUNGSI MEDIA DAN SUMBER BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN
Setelah kita membahas pengertian media dan kedudukan media dalam proses belajar, sekarang kita akan membahas fungsi media dan sumber belajar dalam pembelajaran. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bahwa media pembelajaran termasuk sumber belajar. Karena hal-hal yang digunakan atau dimanfaatkan untuk belajar itu disebut media pembelajaran atau sumber belajar. Media pembelajaran dan sumber belajar juga mempunyai fungsi yang tidak kalah pentingnya dengan kedudukannya di dalam proses belajar.
Secara rinci, Rudy Bretz mengemukakan 11 fungsi media dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
1. Memberikan Pengetahuan tentang Tujuan Pembelajaran
2. Memotivasi peserta didik
3. Menyajikan informasi
4. Merancang diskusi
5. Mengarahkan kegiatan peserta didik
6. Mengontrol kegatan peserta didik (Drill and Practice)
7. Memberikan penguatan
8. Memberikan simulasi
9. Mengevaluasi
10. Administrasi
11. Penelitian dan pengembangan
Dari ke 11 fungsi tersebut, fungsi 1 sampai dengan 8 merupakan fungsi yang diimplementasikan langsung kepada media dalam proses pembelajaran, sedangkan fungsi 9 sampai dengan 11 merupakan fungsi pendukung dalam desain pembelajaran. Oleh karena itu, seluruh komponen fungsi-fungsi tersebut sebaiknya dikelola dengan baik agar media menunjukkan fungsinya secara optimal. Secara umum media mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Media pembelajaran sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif.
b. Media pembelajaran berfungsi untuk mempercepat proses belajar, hal ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.
c. Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
d. Media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme.
Gambar 1.4.
Ilustrasi Pembelajar Menggunakan Media Dalam Proses Belajar
E. PENGERTIAN SUMBER BELAJAR DAN PERKEMBANGANNYA
Belajar adalah usaha sadar yang dilakukan secara terencana, sistematis, dan menggunakan metode tertentu untuk mengubah perilaku relatif menetap melalui interaksi dengan sumber belajar. Hal tersebut serupa bahwa proses belajar itu berlangsung dan berkelanjutan apabila terjadi interaksi antara orang sebagai pelaku belajar dengan sumber belajar. Oleh karena itu, sumber belajar dapat memberikan pengalaman belajar kepada setiap orang. Berikut pengertian sumber belajar menurut beberapa ahli:
1. Barbara B. Seels dan Rita C. Richey
Sumber belajar adalah sumber-sumber yang mendukung belajar termasuk sistem penunjang, materi, dan lingkungan pembelajaran.
2. Yusufhadi Miarso
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan, baik secara tersendiri maupun terkombinasikan dapat memungkinkan terjadinya belajar.
3. Percival & Ellington, 1988
Sumber belajar adalah sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat agar memungkinkan siswa belajar sendiri secara individual.
4. Association for Educational Communication and Technology (AECT), 1977
Semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
Lalu, Association for Educational Communication and Technology (AECT) mengelompokkkan sumber belajar ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut:
a. Sumber belajar yang dirancang (by Design) Sumber belajar yang dirancang khusus sesuai dengan kebutuhan pembelajaran guna mencapai tujuan. Contoh sumber belajar by design adalah Buku teks, Modul, Program audio visual, dan lain-lain.
b. Sumber belajar yang dimanfaatkan (by Utilization) Sumber belajar yang sudah ada dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan guna menunjang pelaksanaan proses pembelajaran. Contoh sumber belajar by utilization adalah lingkungan di sekitar sekolah maupun di luar, contoh lain adalah Museum, Kebun binatang, dan lain-lain.
Menurut Prof. Dr. B.P Sitepu dalam bukunya yang berjudul Pengembangan Sumber Belajar, mengemukakan bahwa perkembangan sumber belajar digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1.5. Perkembangan Sumber Belajar
F. KEGUNAAN SUMBER BELAJAR
Sumber belajar yang tersedia beraneka ragam bentuk serta macamnya. Ada sumber belajar yang secara sengaja dirancang khusus (by design) dan ada sumber belajar yang dimanfaatkan (by utilization). Tetapi, dalam pelaksanaannya masih banyak sumber-sumber belajar yang masih belum dimanfaatkan secara optimal. Hal tersebut dapat menyebabkan proses pembelajaran berjalan kurang efektif.
Dalam hal ini, peran pembelajar sangat penting dalam memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia untuk membantu pemelajar belajar agar lebih mudah, lebih terarah serta lebih menarik. Oleh sebab itu, agar sumber belajar dapat dimanfaatkan secara optimal dan dapat menghasilkan nilai tambah, berikut manfaat dari sumber belajar:
1. Dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dan langsung, misalnya pergi berdarmawisata ke pabrik-pabrik, ke pelabuhan, dan lainlain.
2. Dapat menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan, dikunjungi, atau dilihat secara langsung, misalnya model, denah, foto, film, dan lain-lain.
3. Dapat menambah dan memperluas cakrawala sains yang ada di dalam kelas, misalnya buku teks, foto film, narasumber, dan lain-lain.
4. Dapat memberikan informasi yang akurat dan terbaru, misalnya buku teks, buku bacaan, majalah, dan lain-lain.
5. Dapat membantu memecahkan masalah pendidikan baik makro maupun dalam lingkup mikro, misalnya penggunaan modul untuk Universitas Terbuka dan belajar jarak jauh (makro), simulasi, pengaturan lingkungan yang menarik, penggunaan OHP, dan film (mikro).
6. Dapat memberikan motivasi positif, lebih-lebih bila diatur dan dirancang secara tepat. 7. Dapat merangsang untuk berpikir lebih kritis, merangsang untuk bersikap lebih positif dan merangsang untuk berkembang lebih jauh, misalnya dengan membaca buku teks, buku bacaan, melihat film, dan lain sebagainya yang dapat merangsang pengguna untuk berpikir, menganalisis, dan berkembang lebih lanjut.
G. JENIS-JENIS SUMBER BELAJAR AECT
AECT (Association for Educational Communication and Technology) 1979 mengklasifikasikan jenis sumber belajar menjadi 6. Jenis-jenis sumber belajar ini biasa disebut dengan “BOLATP” yang merupakan akronim dari ke 6 jenis sumber belajar sebagai berikut:
1. Bahan, yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun perangkat itu sendiri. Misalnya, Slide, Film, Audio, Video, dan lain-lain.
2. Orang, yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, penyaji pesan. Misalnya, guru, dosen, instruktur, dan lain-lain.
3. Lingkungan, situasi sekitar di mana pesan disampaikan, lingkungan bisa bersifat fisik (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya) maupun lingkungan non fisik (Suasana belajar dan lain-lain).
4. Alat, yaitu perangkat keras yang digunakan untuk penyampaian pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya, Proyektor slide, OHP, Video Tape, Televisi, dan lain-lain.
5. Teknik, yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. Misalnya, demonstrasi, ceramah, belajar mandiri, dan lain-lain.
6. Pesan, yaitu informasi yang ditransmisikan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, pengertian dan data. Misalnya, kurikulum, silabus, cerita rakyat, prasasti, dan lain-lain.
Gambar 1.6. Ilustrasi Jenis-jenis Sumber Belajar
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN :
Dalam kegiatan pembelajaran,terdapat proses belajar mengajar yang pada dasarnya merupakan proses komunikasi. Dalam proses komunikasi tersebut,guru bertindak sebagai komunikator (communicator) yang bertugas menyampaikan pesan pendidikan (message) kepada penerima pesan (communican) yaitu peserta didik. Agar pesan-pesan pendidikan yang disampaikan guru dapat diterima dengan baik oleh anak,maka dalam proses komunikasi pendidikan tersebut diperlukan wahana penyalur pesan yang disebut media pendidikan/pembelajaran. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa(komunikan), dan tujuan pembelajaran.
B. SARAN :
Diharapkan kepada para pendidik untuk lebih memperhatikan penggunaan media yang cocok dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik lebih mudah memahami materi yang disampaikan.
Komentar
Posting Komentar